Minggu, 06 Mei 2018

Cerpen


PATAH HATI DIBULAN NOVEMBER


Pagi itu, 13 september 2015 aku terbangun dengan gembira, mungkin karena hari itu adalah hari liburku. padatnya aktivitas di hari-hari biasa membuatku ingin menikmati hari liburku dengan melakukan hal-hal yang tidak bisa aku lakukan di hari-hari biasanya, bermalas-malasan di kamar misalnya. oh iya sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri, namaku Ghea Pramundita, biasa dipanggil Ghea, lahir di Jakarta, 3 mei 1990. waktu itu aku berumur 20 tahun, berstatus lajang dan hanya sibuk dengan pekerjaan. Aku bekerja di sebuah coffee shop di Jakarta Pusat, kebetulan bekerja fulltime yang selalu berangkat pagi buta dan pulang larut malam. sibuknya pekerjaan dihari-hari biasanya membuatku ingin bermalas-malasan dihari liburku ini, sambil memandang telpon genggamku, bermalas-malasan diatas ranjang tempat tidurku tanpa sedikitpun berniatan untuk lekas beranjak bangun dan keluar dari kamar.
"huaaaaah enaknya bisa tiduran dikasur tercinta, jarang-jarang bisa seperti ini, beruntung juga hari ini libur" sambil terus memandang hpku yang sedang asiknya, tiba-tiba ada sebuah panggilan masuk di hpku. Nita, teman kerjaku yang selalu ada kemanapun aku pergi, jelasnya dia selalu mengikutiku, yaa mungkin karena kita sahabat.
"hei nit, kenapa? pagi pagi udah telfon aja" tanyaku ke Nita ditelfon.
"Eh Ghe, keluar yuk temenin aku ke mall, aku mau belanja-belanja kebetulan sekarang lagi ada diskon" jawab Nita.
"haaa males ah, entar saja agak siangan, aku lagi enak-enakan nih dikasur, ganggu saja kamu"
"ah keburu panas, sekarang aja, lagian kamu udah jam segini masih aja dikasur, nasib jomblo ya" canda Nita dan sedikit tertawa.
"apaan sih lo, emang gue lagi pengen males malesan aja, mumpung libur kalik" jawabku dengan agak sedikit kesal.
waktu itu jam masih menunjukan pukul 9 pagi, dengan penuh rasa malas, dan pada akirnya akupun menyetujui ajakan Nita, mengajakku pergi untuk menemaninya ke mall.
"yaudah nanti jam 10, belum ngumpul nih nyawa" kataku ke Nita.
"yaudah oke siap bos, nanti gue jemput kerumah jam 10 oke" jawab Nita.
"oke oke siap" sambil mengakhiri telpon dari Nita.
Pada akhirnya aku bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk bersiap-siap pergi dengan Nita dengan keadaan rasanya malas, karena dia sahabatku mau gimana lagi. setelah selesai aku bersiap-siap, tak lama kemudian Nita tiba di rumahku dan mengajaku untuk cepat pergi ke mall yang akan kami kunjungi. setelah berpamitan dengan ibu dan ayah, kami pun langsung pergi dengan menaiki motor yang distiri oleh nita. diatas motor kami mengobrol banyak, tak lepas kami pun bercanda dengan asyiknya sampai kamipun tak sadar kalo kami telah sampai di mall. Tidak menunggu kelamaan kita langsung bergegas menuju pintu masuk setelah memakirkan motor. Aku dan Nita langsung masuk kedalam mall dan mulai berjalan-jalan. ketika itu Aku dan Nita sedang menaiki eskalator menuju lantai 2 tetapi tiba-tiba ada dua orang laki-laki yang mengajak kami berkenalan, sebenarnya kita malu tapi karena mereka mengajak berkenalan ya mau tidak mau kami pun menanggapinya karena ada pepatah mengatakan tak kenal maka tak sayang akirnya kita berkenalan. Aku pun bertukar nomer handphone dengan salah satu laki laki itu, Marcel namanya, cukup oke kalo menurutku, tingginya lebih tinggi dariku, badanya tegap, dan memiliki ginsul digiginya, yang tentu saja menambah daya tarik wajahnya. Kami pun berbisah ketika sampai di lantai 3, memang kami naik ke lantai 3 untuk mencari cari toko yang ingin kami masuki. setelah kami menemukan toko yang cocok, kami pun langsung masuk dan memilih-milih baju dan barang lainnya yang ingin kami beli. tak lama kamipun keluar dari toko itu dan berjalan lagi untuk mencari tempat makan, karna memang aku dan Nita belum sarapan pagi tadi. setalah kami makan disebuah cafe, aku dan Nita berjalan-jalan dan melihat lihat kelantai-lantai lain juga. tak lama setelah itu kami pun berjalan keluar untuk pulang, memang sengaja kami tidak mampir-mampir ketempat lain karna waktu itu jam sudah menunjukan pukul 17:15, kami pun langsung pulang tanpa ada niatan untuk mampir ketempat tempat lain. ditengah perjalanan pulang, aku dan Nita mengobrol diatas kendaraan yang masih distir oleh Nita, sampai akhirnya kamipun tiba di rumahku. dan tanpa berlama-lama Nita pun langsung pamit untuk pulang ke rumahnya, karena waktu itu juga matahari sudah mulai tenggelam dan hari sudah mulai gelap. Aku pun menghabiskan malam itu bersama ibu dan ayah untuk makan malam bersama, kebetulan aku anak pertama dan terakhir, jelasnya aku ini anak tunggal, makanya aku sering dimanja oleh kedua orang tuaku. setelah makan malam, aku langsung masuk ke kamar untuk mengistirahatkan diri yg cukup lelah ini, agar esok paginya siap untuk bekerja lagi. saat aku sedang berbaring dikasur dan bermain hp, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk dari nomer yang tidak kukenal itu, dan setelah kami saling berbalas chat aku tau orang itu adalah Marcel, laki-laki yang bersama temannya yg mengajak aku dan Nita berkenalan di mall pagi itu.
"oh iya Ghe, kalo boleh kapan-kapan ketemu lagi bisa?" tanya Marcel kepadaku dipesan.
"boleh, tapi gue gatau kapannya, soalnya gue sibuk kerja nih" jawabku.
"lo kerja dimana emang?"
"gue di coffee shop, daerah menteng" jawabku didalam chat.
"oh yaudah mending ketemuan disitu aja, sekalian kan gue nongkrong dicoffee shop lo, kebetulan gue belum pernah kesana"
"oke dengan senang hati"
Setelah itu, beberapa hari kemudian aku dan Marcel bertemu di coffee shop miliku bekerja. aku dan Marcel mengobrol banyak, dan kamipun mulai saling kenal lebih dalam satu sama lain, tak jarang kamipun bercanda dan ketawa terbahak bahak karna obrolan-obrolan seru kami. setelah itu marcel memintaku untuk mengantarku pulang, akupun menyetujuinya, kami pun mulai lebih dekat dan lebih dekat lagi, sampai pada suatu hari akupun berkencan dengannya, kami pun makan malam berdua di sebuah restaurant yang cukup terkenal di Jakarta. Aku dan Marcel mulai berbagi cerita dam pada akirnya aku mulai nyaman dengannya, pikirku Marcel pun juga merasakan hal yg sama. Setelah malam itu, kami mulai lebih dekat lagi sampai pada akhirnya Marcel menyatakan cintanya kepadaku, dan akupun menerimanya untuk menjadi pacarku. 28 September kamipun berpacaran, kami saling berbagi cerita, saling mengagumi satu sama lain, tak jarang kami juga bertengkar, menurutku didalam suatu hubungan adalah hal yang wajar jika kadang kami bertengkar. Sebulan pun berlalu, aku dan marcel mulai terbiasa dengan hubungan kami, kami pun sudah tidak pergi berkencan sesering dulu waktu awal awal pacaran. awal November adalah awal munculnya problem-problem di hubungan kami. Dari banyaknya problem-problem di hubungan kami, kami pun mulai tidak bisa menjaga komitmen yang telah kami buat dulu ketika awal pacaran. aku dan Marcel mulai jenuh satu sama lain. mungkin ku kira waktu itu adalah hal biasa dalam hubungan kami tapi ternyata semua itu salah, kami malah sering bertengkar, saling curiga satu sama lain, bakan tidak bisa saling percaya, dan sudah tidak bisa menjaga komitmen kita. tapi aku masih mencoba untuk mempertahankan hubungan ini, karena aku pikir kita bisa melewati problema ini semua. pertengahan November Marcel mulai menjauh, mulai susah dihubungi, mulai suka hilang tanpa kabar, aku pun masih berusaha untuk mempertahankan sebuah hubungan ini atas dasar cinta. Entah apa yang dia lakukan ketika tanpa kabar, aku mencoba berpikir positif. aku tetap mencintainya seperti awal kita berpacaran, tak berkurang sedikitpun, hanya mungkin ada sedikit rasa jenuh. mendekati akhir dibulan November Marcel mulai terlihat muak dengan hubungan kami, dia mulai jarang membalas pesan dariku, dia mulai hilang dari harapan, aku masih berusaha untuk mepertahankan hubungan ini, sampai pada akhirnya tepat di akhir November dan dimalam itu Marcel menemuiku untuk kesekian lamanya, awalnya aku cukup senang karna kukira Marcel akan berubah seperti Marcel saat pertama kami pacaran, tapi tak kusangka dia mangakhiri hubungan ini, hubunganku dengannya.
"Ghe, aku rasa kita udah ngga cocok lagi, kita udah tidak kayak dulu lagi, dan aku udah capek, mending kita udahin aja, daripada kita kayak gini terus, aku jenuh Ghe" ucap Marcel kepadaku malam itu.
"kenapa? Cel, aku sayang sama kamu, aku yakin kita bisa lewatin ini semua"
"Ghe cukup, kita udahan aja sampe disini"
Malam itu jantung serasa enggan untuk berdetak, kaki serasa enggan untuk menyangga, dan mata tak mampu lagi menahan air mata, malam itu aku patahtak henti hentinya mata ini menangis, tidak capek-capeknya hati ini meraung, sampai akupun tertidur lelap dimalam yang sunyi dengan perasaan yg kacau. Hari-haripun berlalu memasuki pertengahan Desember, meninggalkan bekas luka yang telah lama pergi. aku mulai terbiasa dengan itu semua, aku mulai beraktivitas seperti biasa, tanpa hati yang terluka tapi masih berbekas itu. Tidak terasa Desember pun hampir berakhir, aku yang masih berberes-beres dicoffee shop menunggu detik-detik awal tahun baru, suara petasan terdengar  sayup-sayup saling bersautan, ada sebuah senyum yang telintas tiba-tiba. sebuah kenangan ditahun ini yg telah mematahkan rekor lanjangkupun kembali teringat, memory-memory itu sedikit demi sedikit mulai memutar kembali, dari awal aku bertemu denganya, masa-masa pdkt, sampai akhirnya dia menyudahi semuanya, semua itu seperti berputar layaknya vcd didalam ingatanku, tak kusangka matakupun mulai berbinar, dan sebuah air mata kenangan itupun kembali jatuh. Aku masih ingat betul bagaimana patah hati dibulan November, kamu mengakhiri segalanya. cintaku, harapanku, bahkan tawaku kala itu. sampai akhirnya sebuah senyum simpul terlukis diwajahku, tanda untuk mengakhiri semuanya. selamat tinggal masa lalu, menetaplah disebuah ruangan khusus dihati. Lalu akupun mulai melangkah keluar untuk kembali pulang kerumah, mengistirahatkan semuanya, badan, tangan, kaki, mata, juga hati yg pernah patah.


Selesai

Puisi


Pagiku Telah Hilang
(Vina Astriningsih)


Disini, di tempat ini kau berdiri tanpa kepastian
Kau terdiam seakan tak berdaya
Air matamu seperti hujan
Mengalir tanpa arah tujuan
Begitu banyak orang yang berlalu-lalang

Tatapan mata sayu diderai kepedihan
Langit tampak cerah berubah kegelapan
Ketika itu saya berfikir
Ini semua ada!!
Apa yang terjadi sebenarnya!!
Lalu kau mengampiriku
Mendekap erat tubuhku
Memastikan tidak terjadi apa-apa
Dari sorot tatapan matamu.

Semarang, 27.03.2018