Senin, 08 Juli 2019

MONOLOG


TIDAK LAIN DAN TIDAK ADA YANG MUNGKIN
Vina Astriningsih

KETIKA MATAHARI TERBIT, BANYAK ORANG YANG BERLALU LALANG UNTUK MENJALANKAN AKTIVITASNYA. MATAHARI TERBIT PERTANDA HIDUP HARUS ADA PERUBAHAN. BANGUN PAGI BUTA TAK MENJADI ALASAN UNTUK BERMASALAS-MALASAN APALAGI BERSENDA GURAUAN.
            Ini kehidupan saya yang sebenarnya. Kehidupan yang sangat mencekam mungkin orang lain tidak akan kuat dengan kehidupan saya sekarang ini!
WAKTU MENUNJUKKAN PUKUL 04:30. IA MENELUSURI JALANAN YANG BERKELAK-KELOK DAN TERJAL DENGAN ALAS KAKI YANG SUDAH REOT DENGAN MEMBAWA BARANG DAGANGANNYA. AKAN TETAPI IA DENGAN SIGAP MEMBAWA BARANG DAGANGAN.
Setiap hari saya lakukan dengan hati yang penuh keikhlasan. Sampai kapan kemerdekaan berpihak padaku? Apakah kelak kemerdekaan berpihak kepadaku sampai ajal menemuiku? Setiap hari saya keluar pagi buta, pulang ketika matahari berada di pangkuan bumi.
            TIDAK ADA UNTAIAN KATA YANG TERUCAP DI BIBIR PEREMPUAN SEPARUH BAYA TERSEBUT, SAAT MENUJU TEMPAT TUJUANNYA. SEMBARI MELANJUTKAN LANGKAH KAKINYA, SEBELUM MATAHARI TERBIT HINGGA MEMANCARKAN SINAR SURYANYA. SETELAH 30 MENIT BERLALU TIBALAH SUMIEM DI LAPAK DAGANGANNYA.
Memang menjajakan dagangan tak semudah membuang uang. Banyak persaingan dalam berbisnis sering terjadi di dunia fana ini. Banyak orang yang menawar dengan harga yang tidak wajar, tidak tahu kesulitan yang dialami. Banyak impian yang belum terwujudkan dalam membahagiakan keluargaku apalagi punya suami hanyalah orang yang menghambur-hamburkan uang. Tak heran dan tak masuk kepala seharusnya suami menjadi imam yang menafkahi anak dan istrinya. Ini malah berbanding terbalik. Kapan persoalan ini selesai Tuhan... Aku lelah.
            DENGAN SUARA LANTANG, IA MENJAJAKAN DAGANGANNYA.
Bu… mau beli apa? Bisa saya bantu? Dengan milah-milah dagangan saya, ibu muda itupun memilih ayam potong dan sayur mayur. Lalu menanyakan berapa total belanjaannya. Saya geram ketika ibu muda menawar separuh harga dari sebelumnya. Saya mencoba mengontrol diri pada saat itu. Akhirnya saya memberikan kongsi tawar menawar untuk menentukan harga yang sepantasnya.
            IBU MUDA ITUPUN MENINGGALKAN LAPAK DAGANGAN SUMIEM.
Dasaaarrr…. tampilan bergaya tapi dengan harga dagangan segitu menggerutu. Memang dasarnya penampilan tak menjamin isi dompetnya.
            MENATA DAGANGANNYA KEMBALI.
            Dibeli... dibeli... Pak... Bu... Masih segar ini sayur mayurnya. Ayam potongnya ayo dibeli Pak … Bu...
            Ternyata lantang juga suaraku. Aku harus semangat berjualan lagi.
            DENGAN KERINGAT BERCUCURAN DI KENING PEREMPUAN SEPARUH BAYA TERSEBUT MENCOBA TANPA LETIH MENAWARKAN DAGANGANNYA KEPADA PEMBELI YANG BERLALU-LALANG DI PASAR.
Saya tahu, saya orang susah… tak punya harta yang melimpah hanya punya sepetak pekarangan rumah di pedesaan, dan lapak dagangan ini. Tapi apa mungkin semua akan berakhir indah di kala waktu yang akan datang? Apakah orang miskin seperti saya bisa memiliki harta yang lebih? Ah! Sudahlah. Berimajinasi yang belum tentu sesuai dengan realita yang ada.
            SAMBIL MELAMUN DAN BERKHAYAL, TIBA-TIBA…
Keasikan berkhayal dan berhalusinasi saya lupa waktu. Haduh bagaimana dengan mas Deni dan anak-anak di rumah sekarang ini?
            WAKTU MENUNJUKKAN PUKUL 11:30 WIB. WAKTUNYA BERGEGAS MEMBERSIHKAN DAGANGANNYA DAN KEMBALI DI RUMAH.
Terik matahari di atas pusaran bumi menjadi santapan makanan siangnya. Sambil menitih kelelahan Miem bergegas ke rumah dengan sandal jepit reotnya. Setapak demi setapak ia lalui tanpa keluh kesah. Akan tetapi ketika sudah berada di rumah ia tidak merasakan senang, melainkan ia selau sedih karena melihat serang suami yang tidak bertanggung jawab.
            SETIBA DIRUMAHNYA, MIEM MENUJU DAPUR UNTUK MENYIAPKAN MAKAN SIANG. SUARA GEMURUH MULAI TERDENGAR DI HALAMAN BELAKANG RUMAH. MIEM TIDAK MENGHIRAUKAN SUARA ITU DIA TETAP MELANJUTKAN MASAKNYA. TIBA-TIBA PINTU TERBUKA. DENGAN BADAN YANG SEMPOYONGAN, PRIA SEPARUH BAYA ITU BERTERIAK MEMANGIL  MIEM DENGAN SUARA LANTANG.
            Miemm… dimana kau… suamumu udah pulang ini… mengapa kau tidak melayani suamimu ini!
MIEM PUN KETAKUTAN MENDENGAR JERITAN SUARA PRIA SEPARUH BAYA ITU.
Aku masih bergelut dengan masakan di dapur, membawa sebuah mangkok sayur dengan masih ada uap di atasnya. Serta sebuah piring yang berisi potongan tempe dan tahu. Luapan amarah Mas Dani dilampiasakan padaku. Tapi aku sudah terbiasa oleh ocehan dari mulut pria separuh baya tersebut. Diibaratkan, ocehannya itu menjadi makanan setiap hariku. Hatiku teriris mendengarkan pepatah yang keluar dari mulutnya. Merasa nangis batin, aku memutuskan untuk mencari ketenangan.
            KEHIDUPAN INI TIDAK SELANCAR AIR YANG MENGGALIR, TENTU ADA LIKA-LIKU KEHIDUPAN. UNTUK MEMODIFIKASI KEHIDUPAN YANG SEBENARNYA.
            Tidak ada yang peduli dengan kehidupan saya! Pemerintah, penguasa, tidak peduli dengan kehidupan saya ini. Yang tentu sekarang ini saya hanya bisa berusaha untuk kelangsungan hidup ini. Tahun ke tahun saya rasakan tidak ada kemerdekaan sama sekali. Sama dengan diri saya ini. Entah apa yang harus saya lakukan ketika anak saya Rani, lulus nanti. Tentu yang saya harapkan hanyalah pendidikan yang tinggi untuk anak saya. Mungkin dengan pendidikan yang tinggi bisa merubah sebuah takdir.
Kini, saya berharap lebih kepada Rani. Rani adalah anak yang pandai. Dengan separuh raga, saya akan menjamin pendidikan Rani karena saya tidak mau anak saya nanti nasibnya seperti saya. Yang menjadi korban tindak kekerasan oleh bapaknya. Mungkin jeritan hati ini didengar oleh Sang Pemilik alam semesta. Mungkin saya menikah dengan Mas Deni tidak dengan rasa cinta, akan tetapi dengan rasa keterpaksaan. Mengingat dahulu, orang tua saya banyak hutang budi kepada keluarganya.
            Hutang budi menjadikan saya tidak merdeka dengan kehidupan saya sekarang ini. Saya pasrahkan hidup dan mati saya kepada Sang Pemilik alam semesta ini. Hari-hari saya lalui kehidupan ini masih saja seperti ini tidak ada perkembangan sama sekali (MATA BERBINAR-BINAR)
            Apakah kita akan selamanya berada di lingkup kehidupan sekarang ini yang penuh dengan sandiwara kebahagiaan? Ataukah, nanti tuhan memiliki garis takdir tersendiri? Bagi kehidupan kita kelak nanti, Nak? (MENATAP MATA RANI DENGAN PENUH HARAPAN).
Jikalau takdir belum berpihak kepada kami, saya berharap dan menginginkan satu hal saja dalam diri saya. Yaitu tentang kebahagiaan yang semestinya tidak dengan kebersamaan yang penuh kegelisahan serta tangisan batin yang ibu rasakan setiap hari (IA MENANGIS).
            MELAMUN SEMBARI BERPIKIR APA YANG DIUTARAKAN IBUNYA.
Memang bapak adalah orang yang jahat, tidak menafkahi kami sekeluarga. Hidupnya selalu berfoya-foya dan tindak kekerasan yang menyelimuti diri ibu setiap harinya. Walaupun diselimuti dengan kekerasan, tetapi mengapa ibu tetap bertahan kepada kehidupan ini? (tanya Rani) apa benar ibu bertahan karena amanat dari orang tua ibu dahulu?
            AIR MATA BERCUCURAN DI PIPI SUMIEM.
Benar, kamu memang benar. Perkataanmu semua benar. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa untuk sekarang ini. Hanya bisa bertahan dengan kegelapan ini.
            BERSIKAP TEGAR ADALAH SALAH SATU SIKAP SESEORANG YANG DILIHAT TIDAK MEMILIKI PERSOALAN. HANYA UNTUK MEMBUAT DIRINYA TERLIHAT BAHAGIA SAJA DI MATA ORANG LAIN. NAMUN BELUM TENTU, ORANG LAIN BISA MERASAKAN KEPEDIHAN YANG SEMESTINYA.
Dengan rasa kegelisahan, untuk mencari kedamaian dan udara segar. Langkah berpindah menginjak menuju halaman perkarangan rumah.
            LANGKAH BERPIJAK DI HALAMAN DEPAN RUMAH. TERLIHAT MURUNG RAUT WAJAHNYA.
Mungkin saya disuruh lebih ikhtiar mendekatkan diri kepada tuhan lagi. Saya sudah tidak bisa menahan diri lagi. Akan tetapi, saya masih melihat anak remaja saya. Berat hati untuk meninggalkan buah hati, apalagi sudah mau menginjak usia dewasa. Dengan berat hati saya harus bisa menahan keegoisan demi kebahagiaan anakku.
Sabar Yuu, sabar. (MENCOBA MENENAGKAN) Sabar bagaimana? Saya sudah sabar dengan ujian ini. Mungkin tuhan telah menguji kamu dan keluargamu sekarang ini, agar tetap ikhtiar. Tiap hari berdoa, tiap hari meminta, tetapi tidak ada perkembangan sama sekali. Tuhan maha adil dan mampu membolak-balikkan semuanya. Tinggal tunggu hasil akhirnya. Jikalau tuhan mampu mengabulkan doa setiap umatnya, mengapa kehidupan ini masih begini-begini saja?
            BURUNG-BURUNG BERSIUL DI ATAP RUMAH.
Andai saja kehidupan saya seperti burung lepas di angkasa. Alangkah indahnya kehidupan ini. Bisa terbang kesana kemari tidak merasakan kepedihan mengiris batin hati ini. Tanpa ada sandiwara kebahagian kehidupan ini. Ahhhh alangkah indahnya kehidupan semestinya ini. Jikalau burung bisa mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi menuju angkasa, kenapa saya tidak bisa? Semoga dewi keberuntungan berpihak kepadaku di masa yang akan datang. (KEMBALI BERANDAI-ANDAI).
            TIDAK TERASA IA SUDAH MENGHABISKAN WAKTU YANG CUKUP LAMA DI HALAMAN PERKARANGAN RUMAHNYA. IA KEMBALI KERUANG TENGAH YANG DI SANA ADA ANAK SEMATA WAYANGNYA.
Nak, kamu tahu kehidupan kita sekarang ini, ibu yang membanting tulang dari matahari sebelum muncul di pangkuan bumi, hingga matahari berada persis di pusat pangkuan bumi ini. Nak, ibumu ini adalah orang desa yang tidak memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Biar ibu saja yang merasakan kepedihan ini. Kamu jangan sampai merasakan hal yang ibu rasakan sekarang ini. Kamu adalah anak perempuan ibu satu-satunya. Kebanggaan ibu, Nak, ibu tidak bisa memberikan harta yang lebih untuk kamu. Tetapi ibu hanya bisa memberikan pendidikan yang tinggi untuk menuntut ilmu karena ibu percaya ilmu tidak akan pernah habis. Sedangkan harta akan habis atau hilang. (PESANKU KEPADA ANAKKU).
            Lalu saya menangis dan menggenggam erat tangan anak saya. Serta bersikap tegar dan mengusap air matanya.
            PEPATAH YANG KELUAR DARI PEREMPUAN SEPARUH BAYA MENJADIKAN MOTIVASI TERSENDIRI BAGI SANG ANAK.
Drama terjadi pada saat itu. Saya berharap anak saya mampu memahami apa yang saya utarakan pada saat itu.
Sepertinya saya harus merubah takdir di kehidupan keluarga saya. Kasihan ibu yang bekerja keras, harus menghadapi kerasnya kehidupan ini, setiap hari dimarahi bapak. Semoga doa dan usaha saya akan berbuah hasil di kemudian hari (JANJI RINA KEPADA SANG IBU).
            SEMUA TELAH USAI, SANDIWARA INI TELAH USAI KETIKA PEREMPUAN SEPARUH BAYA ITU MENARIK NAPAS DAN MENUJU KE DALAM RUMAHNYA.

(kamar singgah, 24-05-2019)