TIDAK
LAIN DAN TIDAK ADA YANG MUNGKIN
Vina
Astriningsih
KETIKA MATAHARI TERBIT, BANYAK ORANG YANG BERLALU LALANG
UNTUK MENJALANKAN AKTIVITASNYA. MATAHARI TERBIT PERTANDA HIDUP HARUS ADA
PERUBAHAN. BANGUN PAGI BUTA TAK MENJADI ALASAN UNTUK BERMASALAS-MALASAN APALAGI
BERSENDA GURAUAN.
Ini
kehidupan saya yang sebenarnya. Kehidupan yang sangat mencekam mungkin orang lain tidak
akan kuat dengan kehidupan saya sekarang ini!
WAKTU MENUNJUKKAN PUKUL
04:30.
IA MENELUSURI JALANAN YANG BERKELAK-KELOK DAN TERJAL DENGAN ALAS KAKI YANG
SUDAH REOT DENGAN MEMBAWA BARANG DAGANGANNYA. AKAN TETAPI IA DENGAN SIGAP
MEMBAWA BARANG DAGANGAN.
Setiap
hari saya lakukan dengan hati yang penuh keikhlasan. Sampai kapan kemerdekaan
berpihak padaku?
Apakah kelak kemerdekaan berpihak kepadaku sampai ajal menemuiku? Setiap hari saya keluar pagi buta, pulang
ketika matahari berada di pangkuan bumi.
TIDAK
ADA UNTAIAN KATA YANG TERUCAP DI BIBIR
PEREMPUAN SEPARUH BAYA TERSEBUT, SAAT
MENUJU TEMPAT TUJUANNYA. SEMBARI MELANJUTKAN LANGKAH KAKINYA, SEBELUM MATAHARI
TERBIT HINGGA MEMANCARKAN SINAR SURYANYA. SETELAH 30 MENIT BERLALU TIBALAH
SUMIEM DI LAPAK DAGANGANNYA.
Memang
menjajakan dagangan tak semudah membuang uang. Banyak persaingan dalam
berbisnis sering terjadi di dunia fana ini. Banyak orang yang menawar dengan
harga yang tidak wajar, tidak tahu kesulitan yang dialami. Banyak impian yang
belum terwujudkan dalam membahagiakan keluargaku apalagi punya suami hanyalah
orang yang menghambur-hamburkan uang. Tak heran dan tak masuk kepala seharusnya
suami menjadi imam yang
menafkahi
anak dan istrinya.
Ini malah berbanding terbalik. Kapan
persoalan ini selesai Tuhan... Aku lelah.
DENGAN
SUARA LANTANG,
IA MENJAJAKAN DAGANGANNYA.
Bu…
mau beli apa?
Bisa saya bantu? Dengan milah-milah dagangan saya, ibu muda itupun memilih ayam potong dan
sayur mayur. Lalu menanyakan berapa total belanjaannya. Saya geram ketika ibu
muda menawar separuh harga dari sebelumnya. Saya mencoba mengontrol diri pada
saat itu. Akhirnya saya memberikan kongsi tawar menawar untuk menentukan harga
yang sepantasnya.
IBU
MUDA ITUPUN MENINGGALKAN LAPAK DAGANGAN SUMIEM.
Dasaaarrr….
tampilan bergaya tapi dengan harga dagangan segitu menggerutu. Memang dasarnya penampilan
tak menjamin isi dompetnya.
MENATA
DAGANGANNYA KEMBALI.
Dibeli... dibeli... Pak... Bu... Masih
segar ini sayur
mayurnya. Ayam potongnya ayo
dibeli Pak
… Bu...
Ternyata
lantang juga suaraku. Aku harus semangat berjualan lagi.
DENGAN
KERINGAT BERCUCURAN DI KENING PEREMPUAN SEPARUH BAYA TERSEBUT MENCOBA TANPA
LETIH MENAWARKAN DAGANGANNYA KEPADA PEMBELI YANG BERLALU-LALANG DI PASAR.
Saya
tahu, saya orang susah… tak punya harta yang melimpah hanya punya sepetak pekarangan
rumah di pedesaan,
dan lapak dagangan ini. Tapi apa mungkin semua akan berakhir indah di kala waktu yang akan datang? Apakah orang
miskin seperti saya bisa memiliki harta yang lebih? Ah! Sudahlah. Berimajinasi yang belum tentu sesuai dengan
realita yang ada.
SAMBIL
MELAMUN DAN BERKHAYAL, TIBA-TIBA…
Keasikan
berkhayal dan berhalusinasi saya lupa waktu. Haduh bagaimana dengan mas Deni
dan anak-anak di rumah
sekarang ini?
WAKTU
MENUNJUKKAN PUKUL 11:30 WIB. WAKTUNYA BERGEGAS MEMBERSIHKAN DAGANGANNYA DAN
KEMBALI DI RUMAH.
Terik
matahari di atas pusaran bumi menjadi santapan makanan siangnya. Sambil menitih
kelelahan Miem
bergegas ke rumah dengan sandal jepit reotnya. Setapak demi setapak ia lalui tanpa keluh
kesah. Akan tetapi ketika sudah berada di rumah
ia tidak merasakan senang,
melainkan ia selau sedih karena melihat serang suami yang tidak bertanggung
jawab.
SETIBA
DIRUMAHNYA, MIEM
MENUJU DAPUR UNTUK MENYIAPKAN MAKAN SIANG. SUARA GEMURUH MULAI TERDENGAR DI
HALAMAN BELAKANG RUMAH. MIEM TIDAK MENGHIRAUKAN SUARA ITU DIA TETAP MELANJUTKAN
MASAKNYA. TIBA-TIBA
PINTU TERBUKA.
DENGAN
BADAN YANG SEMPOYONGAN,
PRIA SEPARUH BAYA ITU BERTERIAK MEMANGIL
MIEM
DENGAN SUARA LANTANG.
Miemm… dimana kau…
suamumu udah pulang ini… mengapa kau tidak melayani suamimu ini!
MIEM PUN KETAKUTAN
MENDENGAR
JERITAN SUARA PRIA SEPARUH BAYA ITU.
Aku masih bergelut dengan masakan di dapur, membawa sebuah mangkok sayur dengan masih ada uap di atasnya. Serta sebuah piring yang berisi potongan tempe dan tahu. Luapan amarah Mas Dani dilampiasakan padaku. Tapi aku sudah terbiasa oleh ocehan dari
mulut pria separuh baya tersebut. Diibaratkan, ocehannya itu menjadi makanan setiap hariku. Hatiku teriris mendengarkan pepatah yang keluar dari mulutnya. Merasa
nangis batin, aku memutuskan
untuk mencari ketenangan.
KEHIDUPAN
INI TIDAK SELANCAR AIR YANG MENGGALIR,
TENTU ADA LIKA-LIKU KEHIDUPAN. UNTUK MEMODIFIKASI KEHIDUPAN YANG SEBENARNYA.
Tidak
ada yang peduli dengan kehidupan saya! Pemerintah, penguasa, tidak peduli dengan kehidupan saya ini.
Yang tentu sekarang ini saya hanya bisa berusaha untuk kelangsungan hidup ini. Tahun ke tahun saya rasakan tidak ada
kemerdekaan sama sekali.
Sama dengan diri saya ini. Entah apa yang
harus saya lakukan ketika anak saya Rani, lulus nanti. Tentu yang saya harapkan
hanyalah pendidikan yang tinggi
untuk anak saya. Mungkin dengan pendidikan yang tinggi bisa merubah sebuah
takdir.
Kini, saya berharap lebih kepada Rani. Rani adalah anak yang pandai. Dengan separuh raga, saya akan menjamin pendidikan Rani karena
saya tidak mau anak saya nanti nasibnya seperti saya. Yang menjadi korban tindak kekerasan oleh bapaknya.
Mungkin jeritan hati ini didengar oleh Sang
Pemilik alam semesta. Mungkin saya menikah
dengan Mas
Deni tidak dengan rasa cinta,
akan tetapi dengan rasa keterpaksaan. Mengingat dahulu, orang tua saya banyak hutang budi kepada
keluarganya.
Hutang budi
menjadikan saya tidak merdeka dengan kehidupan saya sekarang ini. Saya
pasrahkan hidup dan mati saya kepada Sang
Pemilik alam semesta ini. Hari-hari saya
lalui kehidupan ini masih saja seperti ini tidak ada perkembangan sama sekali (MATA BERBINAR-BINAR)
Apakah
kita akan selamanya berada di lingkup kehidupan sekarang ini yang penuh dengan sandiwara kebahagiaan? Ataukah, nanti tuhan memiliki garis takdir
tersendiri? Bagi
kehidupan kita kelak nanti, Nak? (MENATAP
MATA RANI
DENGAN PENUH HARAPAN).
Jikalau
takdir belum berpihak kepada kami, saya
berharap dan menginginkan satu hal saja dalam diri saya. Yaitu tentang kebahagiaan yang semestinya
tidak dengan kebersamaan
yang penuh kegelisahan serta tangisan batin yang ibu rasakan setiap hari (IA MENANGIS).
MELAMUN
SEMBARI BERPIKIR APA YANG DIUTARAKAN IBUNYA.
Memang
bapak adalah orang yang jahat, tidak menafkahi kami sekeluarga. Hidupnya selalu
berfoya-foya dan tindak kekerasan yang menyelimuti diri ibu setiap harinya.
Walaupun diselimuti dengan kekerasan,
tetapi mengapa ibu tetap bertahan kepada kehidupan ini? (tanya Rani) apa benar ibu bertahan karena amanat
dari orang tua ibu dahulu?
AIR
MATA BERCUCURAN DI PIPI SUMIEM.
Benar, kamu memang benar. Perkataanmu semua benar. Ibu tidak bisa berbuat apa-apa untuk sekarang ini. Hanya bisa
bertahan dengan kegelapan ini.
BERSIKAP
TEGAR ADALAH SALAH SATU SIKAP SESEORANG YANG DILIHAT TIDAK MEMILIKI PERSOALAN.
HANYA UNTUK
MEMBUAT DIRINYA TERLIHAT BAHAGIA
SAJA DI MATA ORANG LAIN. NAMUN BELUM TENTU, ORANG LAIN BISA
MERASAKAN KEPEDIHAN YANG SEMESTINYA.
Dengan
rasa kegelisahan, untuk mencari kedamaian dan udara segar. Langkah berpindah menginjak menuju halaman perkarangan rumah.
LANGKAH
BERPIJAK DI HALAMAN DEPAN RUMAH. TERLIHAT MURUNG RAUT WAJAHNYA.
Mungkin
saya disuruh lebih ikhtiar mendekatkan diri kepada tuhan lagi. Saya sudah tidak
bisa menahan diri lagi. Akan tetapi,
saya masih melihat anak remaja saya. Berat hati untuk meninggalkan buah hati, apalagi sudah mau menginjak usia dewasa.
Dengan berat hati saya harus bisa menahan keegoisan demi kebahagiaan anakku.
Sabar
Yuu, sabar. (MENCOBA
MENENAGKAN) Sabar bagaimana? Saya sudah sabar dengan ujian ini. Mungkin tuhan telah
menguji kamu dan keluargamu sekarang ini, agar
tetap
ikhtiar.
Tiap
hari berdoa, tiap hari meminta,
tetapi tidak ada perkembangan sama sekali. Tuhan maha adil dan mampu
membolak-balikkan semuanya.
Tinggal tunggu hasil akhirnya. Jikalau tuhan mampu
mengabulkan doa setiap umatnya,
mengapa kehidupan ini masih begini-begini
saja?
BURUNG-BURUNG
BERSIUL DI ATAP RUMAH.
Andai
saja kehidupan saya seperti burung lepas di angkasa.
Alangkah indahnya kehidupan ini. Bisa terbang kesana kemari tidak merasakan kepedihan
mengiris batin hati ini. Tanpa ada sandiwara kebahagian kehidupan ini. Ahhhh
alangkah indahnya kehidupan semestinya ini. Jikalau burung bisa mengepakkan
sayapnya dan terbang tinggi
menuju angkasa,
kenapa saya tidak bisa?
Semoga dewi keberuntungan berpihak kepadaku di masa
yang akan datang. (KEMBALI
BERANDAI-ANDAI).
TIDAK
TERASA IA SUDAH MENGHABISKAN WAKTU YANG CUKUP LAMA DI HALAMAN PERKARANGAN
RUMAHNYA. IA KEMBALI KERUANG TENGAH YANG DI SANA
ADA ANAK SEMATA WAYANGNYA.
Nak, kamu tahu kehidupan kita sekarang ini, ibu yang
membanting tulang dari matahari sebelum muncul di pangkuan bumi, hingga matahari berada persis di pusat pangkuan bumi ini. Nak, ibumu ini
adalah orang desa yang tidak memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Biar ibu saja yang merasakan kepedihan ini. Kamu
jangan sampai merasakan hal yang ibu rasakan sekarang ini. Kamu adalah anak perempuan ibu
satu-satunya. Kebanggaan ibu, Nak,
ibu tidak bisa memberikan harta yang lebih untuk kamu. Tetapi ibu hanya bisa
memberikan pendidikan yang tinggi untuk
menuntut ilmu karena ibu percaya ilmu tidak akan pernah habis. Sedangkan harta akan habis atau
hilang. (PESANKU KEPADA ANAKKU).
Lalu
saya menangis
dan menggenggam erat tangan anak saya. Serta bersikap tegar dan mengusap air
matanya.
PEPATAH
YANG KELUAR DARI PEREMPUAN SEPARUH BAYA MENJADIKAN MOTIVASI TERSENDIRI BAGI SANG
ANAK.
Drama
terjadi pada saat itu. Saya berharap anak saya mampu memahami apa yang saya
utarakan pada saat itu.
Sepertinya saya harus merubah takdir di
kehidupan keluarga saya. Kasihan ibu yang bekerja keras, harus menghadapi kerasnya kehidupan ini, setiap hari dimarahi bapak. Semoga doa dan
usaha saya akan berbuah hasil di kemudian hari (JANJI RINA KEPADA SANG IBU).
SEMUA
TELAH USAI, SANDIWARA INI TELAH USAI KETIKA PEREMPUAN SEPARUH BAYA ITU MENARIK
NAPAS DAN MENUJU KE DALAM RUMAHNYA.
(kamar singgah, 24-05-2019)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar